Selasa, 13 Maret 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Tolak Kehadiran Dahlan Iskan
Mengutip dari tetangga ... ini hoax ... jangan percaya ...
Tuesday, February 14, 2012 10:04 AM
Alumni ITB Tolak Kehadiran Dahlan Iskan
To:
...@yahoogroups.com
Ha ha ha ha ha sekali lagi DI membuktikan kehebatannya yang luar biasa sebagai jurnalis, aktor, pemimpin kharismatik, dan marketer of the year yang dapat mempengaruhi publik termasuk orang orang baik dan pintar dari ITB UGM UI.
Puluhan tahun PLN dipimpin oleh para insinyur , mostly ITB UGM UI, yang sebagian besar pintar dan berdedikasi dianggap gagal mengurus PLN dan selalu dihujat. Terbukti penyebabnya karena tidak mampu menekan pemerintah dan tidak berani bertindak out of the box lebih tepatnya populis seperti DI. Direksi dulu dulu diharamkan oleh pemerintah membakar BBM tambahan untuk disel sehingga hanya bisa fokus menyelesaikan pekerjaan yang sulit dan beresiko seperti membangun pembangkit besar yang lama pembangunannya dan berat masalahnya.
Dalam waktu kurang dari setahun DI berhasil mengatasi masalah laten PLN yaitu pemadaman dan penyambungan pelanggan justru dengan cara yang dulunya haram bagi orang teknik (karena beban melebihi supply) dan orang ekonomi (karena perlu extra budget puluhan triliun untuk dibakar sebagai BBM) yaitu dengan crash program sewa disel dan membebaskan sambungan baru. Strategi populis tersebut ternyata jauh lebih jitu daripada cara idealis konvensional para insinyur. Buktinya tidak pernah ada lagi berita buruk tentang PLN di surat kabar, pertama kali dalam sejarah DIRUT PLN diangkat jadi mentri, pejabat senior dijamu ngopi di istana, sebagian besar alumni itb ugm ui dan pegawai pln memuji muji DI, dan terakhir diberi kehormatan jadi pembicara oleh pengurus IA .... Congratulation!!
Phenomena DI yang sangat brilian memanfaatkan karakter bangsa Indonesia yang ignorance terhadap problem jangka panjang sepanjang kebutuhannya dipenuhi telah menjungkir balikkan konsep tradisional tentang gaya kepemimpinan idealis vs. populis, covering up vs. solving the problem. Saya dengan keluarga besar PLN harus berterima kasih karena berkat DI sekarang nama PLN sudah harum di mata masyarakat
Tapi setiap kebijakan yang dipilih tentunya ada risiko yang harus ditanggung. Selain melonjaknya subsidi puluhan triliun paling tidak untuk 2 tahun ini, ada beban lain yang saya tidak mau cerita disini untuk menghindari bias sebab saya termasuk subjek yang digusur beliau. Silakan tanya kepada orang PLN lain saja. Saya hanya ingin mengajukan Quiz, apakah strategi yang sama bisa dilakukan oleh orang lain selain DI yang menguasai ratusan surat kabar di seluruh pelosok tanah air? Mana yang lebih powerful saat ini media massa atau tentara/polisi?
BRAVO ... khususnya ...
Sabtu, 28 Januari 2012
ITB tidak diajarkan Aspek Komersial Bisnis Migas atau Ekploitasi SDA lainnya???Saturday, January 28, 2012
[ITB74] 6:56 AM
To:
"Itb74 Group"
Posting dari FB tetangga.
Catatan yg menarik dan saya simpulkan dgn subjek diatas.
-----------------------
Sharing Pak
Fnu Joefrizal di kumpul2 Expat Indo di UAE.
Alhamdulillah kemarin malam sempat hadir saat acara ngumpul2 expat indonesia yg kerja di migas (IATMI ) & juga skalian kumpul2 alumni ITB di UAE.
Menarik skali penjelasan ttg aspek komersial bisnis migas oleh pak Joefrizal, alumni ITB yg saat ini jadi salah satu commercial manager salah satu persh minyak di UAE sini. acara berlangsung di ruang pertemuan KBRI Abu Dhabi.
Saya awam sekali dalam dunia migas ini, penjelasan singkat kemarin, cukup membukakan wawasan.
Membandingkan antara pengelolaan bisnis migas di UAE & Indonesia, jadi sadar betapa negeri kita slama ini, spt dibodoh2-in oleh persh minyak dunia, minyak hampir habis disedot, negeri tetap sengsara. UAE mengelola bisnis migasnya dg cerdas, & benar2 menerapkan spt apa yg diamanahkan UUD 45 kita, “menggunakan sebesar2nya sumberdaya alam utk kemakmuran rakyat” ( sampai para pendatang spt saya & pekerja asing lain nya, masih kebagian pula).
Almarhum, Syekh Zayed pendiri negara UAE, menggunakan hasil kekayaan minyak nya utk kemakmuran rakyatnya, buat jalan, sekolah, rumah sakit, pasar, rumah utk rakyat dan fasilitas umum lain nya. Karena itulah negeri ini maju dg cepat nya dalam waktu singkat. kalau lihat foto abu dhabi sekitar thn 1960-an, kondisinya bagai kampung nelayan di pinggir pantai di daerah Indonesia timur, selama 30 thn membangun kondisinya sdh spt Singapore, bahkan lebih maju lagi. Semua rakyat mencintai beliau, tiap sholat jumat, beliau di doakan betapa berkahnya, para pendatang pun mencintai beliau. sampai ada teman, yg anaknya lahir disini dinamai dg nama Zayed.
Saat ngobrol2, ada yg bilang krn org arab memang dikenal pintar dagang, sedangkan kita dg kultur agraris, mengelola bisnis migas pun spt mengelola tanah, sawah dan kebun spt dg pola paroan, nyuruh org lain garap lahan, dan kita ongkang2 kaki doang utk dikasih bagian ( fee/komisi ). di negeri arab sini pengusaha minyak asing disuruh garap lahan minyak disini, tapi tetap dalam pengendalian mereka, istilahnya, bule2 di bisnis migas tsb, jadi "kuli" org arab pula, mereka tak bisa se enaknya sajah..,sedang di kita dibiarkan se enaknya, sampai kita dibodohin jadi nya, krn itu tadi ingin enaknya doang, nggak kerja, asal dapat bagian sajah, mental agraris..
menarik juga penjelasan ttg aspek komersial / bisnis migas, membukakan mata saya yg awam thd hal tsb. satu hal yg saya tangkap selama ini kita org Indonesia hanya ditekankan utk belajar ilmu perminyakan dari sisi tekniknya saja ( sbg contoh teknik perminyakan di ITB ) , tapi tak banyak dipelajari dari sisi komersial bisnis nya. Padahal dari sisi bisnis tsb lah, dikembangkan strategi umum nya dan juga keuntungan dan kerugian nya. sisi tsb selama ini dikuasai org2 asing / persh minyak asing. Itulah bedanya dg di UAE sini, aspek komersial nya dipegang langsung oleh pemerintah sendiri ( persh minyak milik negara ). Di perguruan tinggi yg belajar manajemen, pemasaran, ekonomi, aspek komersial migas ini pun tak dipelajari. mungkin karena itulah banyak org tak sadar, kita tak begitu cerdas dalam mengelola nya. bukan hanya minyak, tapi juga aspek2 bisnis komersial hasil alam lain nya spt tambang, batu bara, pertanian dll, tak dipelajari dg baik, sehingga akhirnya, para pebisnis dari singapore lah yg menguasai aspek2 bisnis tsb.
di Indonesia, persh minyak2 asing begitu jumawa nya, teman2 alumni perguruan tinggi spt ITB spt berebut ingin kerja disana. tapi hanya kerja di bagian teknik saja, tak banyak yg masuk ke aspek komersial bisnis, yg masih dipegang org2 asing. sebagai bandingan di UAE sini, persh2 minyak dunia tsb seperti bertekuk lutut pada persh minyak negara , ADNOC, anak2 muda sini ingin skali kerja di persh minyak negara tsb, tak begitu tertarik kerja di persh minyak asing, karena memang peran nya jadi tak begitu dominan, selain memang persh negara memberikan gaji & benefit yg lebih besar dari pada persh asing tsb. Jalan2 di jakarta, kantor2 persh minyak asing spt begitu angkuhnya berdiri disamping persh2 indonesia. di abu dhabi sini kantor persh minyak negara tampil dg gagahnya, kantor perwakilan minyak asing kecil saja kantornya. Orang2 bangga dg dirinya sendiri, bangga dengan negeri nya sendiri.
Setiap persh minyak asing yg mau garap lahan migas disini, tak bisa berdiri sendiri harus buat persh baru , patungan dg persh minyak negara dg saham minoritas ( max 49 % ) . tahun 2014 beberapa lahan besar migas UAE habis masa kontrak nya, persh2 minyak dunia, spt ngemis2 agar dapat melanjutkanya, tapi negara ini sangat cerdas dalam bisnis, malah akan membuat tender terbuka, di adu harga dg berbagai persh minyak dunia, kabar2 nya, persh minyak dari asia ( china, korea, jepang) punya kans yg besar utk masuk, krn bisa ngasih harga yg lebih murah tapi teknologi nya sdh semaju pers minyak barat, seandainya persh minyak Indonesia bisa masuk , hebat sekali.
sy kira negara ini hebat skali dalam deal bisnis kelas dunia, sbg bandingan, saat akan tender nuclear power plant 2 thn lalu, kontrak project besar, yg diperebutkan persh besar dari amrik , eropa dan asia. walau dg berbagai lobi politik tingkat tinggi dari negeri barat, akhirnya kontrak didapatkan persh korea yg bisa ngasih harga murah, teknologi sebanding barat dan mau ngasih alih teknologi, persh negara2 barat pun gigit jari doang. Membandingkan dg tender2 project besar di negeri kita ( migas, batu bara dll ) sedih sekali, betapa pengelola negara, begitu mudah ditekan dan dipengaruhi lobi tingkat tinggi. Cerita ttg perpanjangan kontrak tambang spt freeport dan ladang2 migas lain nya, menunjukkan betapa pemerintah kita lemah dalam deal bisnis, mudah ditekan loby persh asing.
demikian cerita singkat dari gurun pasir abu, semoga bermanfaat,
semoga pula amanah UUD 45 yg kita hapalkan di sekolah dulu bisa terlaksana pula ;
Pasal 33 UUD 1945:
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
salam dari gurun pasir abu dhabi
HM
Salam, H
Catatan yg menarik dan saya simpulkan dgn subjek diatas.
-----------------------
Sharing Pak
Fnu Joefrizal di kumpul2 Expat Indo di UAE.
Alhamdulillah kemarin malam sempat hadir saat acara ngumpul2 expat indonesia yg kerja di migas (IATMI ) & juga skalian kumpul2 alumni ITB di UAE.
Menarik skali penjelasan ttg aspek komersial bisnis migas oleh pak Joefrizal, alumni ITB yg saat ini jadi salah satu commercial manager salah satu persh minyak di UAE sini. acara berlangsung di ruang pertemuan KBRI Abu Dhabi.
Saya awam sekali dalam dunia migas ini, penjelasan singkat kemarin, cukup membukakan wawasan.
Membandingkan antara pengelolaan bisnis migas di UAE & Indonesia, jadi sadar betapa negeri kita slama ini, spt dibodoh2-in oleh persh minyak dunia, minyak hampir habis disedot, negeri tetap sengsara. UAE mengelola bisnis migasnya dg cerdas, & benar2 menerapkan spt apa yg diamanahkan UUD 45 kita, “menggunakan sebesar2nya sumberdaya alam utk kemakmuran rakyat” ( sampai para pendatang spt saya & pekerja asing lain nya, masih kebagian pula).
Almarhum, Syekh Zayed pendiri negara UAE, menggunakan hasil kekayaan minyak nya utk kemakmuran rakyatnya, buat jalan, sekolah, rumah sakit, pasar, rumah utk rakyat dan fasilitas umum lain nya. Karena itulah negeri ini maju dg cepat nya dalam waktu singkat. kalau lihat foto abu dhabi sekitar thn 1960-an, kondisinya bagai kampung nelayan di pinggir pantai di daerah Indonesia timur, selama 30 thn membangun kondisinya sdh spt Singapore, bahkan lebih maju lagi. Semua rakyat mencintai beliau, tiap sholat jumat, beliau di doakan betapa berkahnya, para pendatang pun mencintai beliau. sampai ada teman, yg anaknya lahir disini dinamai dg nama Zayed.
Saat ngobrol2, ada yg bilang krn org arab memang dikenal pintar dagang, sedangkan kita dg kultur agraris, mengelola bisnis migas pun spt mengelola tanah, sawah dan kebun spt dg pola paroan, nyuruh org lain garap lahan, dan kita ongkang2 kaki doang utk dikasih bagian ( fee/komisi ). di negeri arab sini pengusaha minyak asing disuruh garap lahan minyak disini, tapi tetap dalam pengendalian mereka, istilahnya, bule2 di bisnis migas tsb, jadi "kuli" org arab pula, mereka tak bisa se enaknya sajah..,sedang di kita dibiarkan se enaknya, sampai kita dibodohin jadi nya, krn itu tadi ingin enaknya doang, nggak kerja, asal dapat bagian sajah, mental agraris..
menarik juga penjelasan ttg aspek komersial / bisnis migas, membukakan mata saya yg awam thd hal tsb. satu hal yg saya tangkap selama ini kita org Indonesia hanya ditekankan utk belajar ilmu perminyakan dari sisi tekniknya saja ( sbg contoh teknik perminyakan di ITB ) , tapi tak banyak dipelajari dari sisi komersial bisnis nya. Padahal dari sisi bisnis tsb lah, dikembangkan strategi umum nya dan juga keuntungan dan kerugian nya. sisi tsb selama ini dikuasai org2 asing / persh minyak asing. Itulah bedanya dg di UAE sini, aspek komersial nya dipegang langsung oleh pemerintah sendiri ( persh minyak milik negara ). Di perguruan tinggi yg belajar manajemen, pemasaran, ekonomi, aspek komersial migas ini pun tak dipelajari. mungkin karena itulah banyak org tak sadar, kita tak begitu cerdas dalam mengelola nya. bukan hanya minyak, tapi juga aspek2 bisnis komersial hasil alam lain nya spt tambang, batu bara, pertanian dll, tak dipelajari dg baik, sehingga akhirnya, para pebisnis dari singapore lah yg menguasai aspek2 bisnis tsb.
di Indonesia, persh minyak2 asing begitu jumawa nya, teman2 alumni perguruan tinggi spt ITB spt berebut ingin kerja disana. tapi hanya kerja di bagian teknik saja, tak banyak yg masuk ke aspek komersial bisnis, yg masih dipegang org2 asing. sebagai bandingan di UAE sini, persh2 minyak dunia tsb seperti bertekuk lutut pada persh minyak negara , ADNOC, anak2 muda sini ingin skali kerja di persh minyak negara tsb, tak begitu tertarik kerja di persh minyak asing, karena memang peran nya jadi tak begitu dominan, selain memang persh negara memberikan gaji & benefit yg lebih besar dari pada persh asing tsb. Jalan2 di jakarta, kantor2 persh minyak asing spt begitu angkuhnya berdiri disamping persh2 indonesia. di abu dhabi sini kantor persh minyak negara tampil dg gagahnya, kantor perwakilan minyak asing kecil saja kantornya. Orang2 bangga dg dirinya sendiri, bangga dengan negeri nya sendiri.
Setiap persh minyak asing yg mau garap lahan migas disini, tak bisa berdiri sendiri harus buat persh baru , patungan dg persh minyak negara dg saham minoritas ( max 49 % ) . tahun 2014 beberapa lahan besar migas UAE habis masa kontrak nya, persh2 minyak dunia, spt ngemis2 agar dapat melanjutkanya, tapi negara ini sangat cerdas dalam bisnis, malah akan membuat tender terbuka, di adu harga dg berbagai persh minyak dunia, kabar2 nya, persh minyak dari asia ( china, korea, jepang) punya kans yg besar utk masuk, krn bisa ngasih harga yg lebih murah tapi teknologi nya sdh semaju pers minyak barat, seandainya persh minyak Indonesia bisa masuk , hebat sekali.
sy kira negara ini hebat skali dalam deal bisnis kelas dunia, sbg bandingan, saat akan tender nuclear power plant 2 thn lalu, kontrak project besar, yg diperebutkan persh besar dari amrik , eropa dan asia. walau dg berbagai lobi politik tingkat tinggi dari negeri barat, akhirnya kontrak didapatkan persh korea yg bisa ngasih harga murah, teknologi sebanding barat dan mau ngasih alih teknologi, persh negara2 barat pun gigit jari doang. Membandingkan dg tender2 project besar di negeri kita ( migas, batu bara dll ) sedih sekali, betapa pengelola negara, begitu mudah ditekan dan dipengaruhi lobi tingkat tinggi. Cerita ttg perpanjangan kontrak tambang spt freeport dan ladang2 migas lain nya, menunjukkan betapa pemerintah kita lemah dalam deal bisnis, mudah ditekan loby persh asing.
demikian cerita singkat dari gurun pasir abu, semoga bermanfaat,
semoga pula amanah UUD 45 yg kita hapalkan di sekolah dulu bisa terlaksana pula ;
Pasal 33 UUD 1945:
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
salam dari gurun pasir abu dhabi
HM
Salam, H
Minggu, 21 Februari 2010
Sorgum untuk Ketahanan Pangan
Gizi.net - Ancaman krisis pangan mengintip Indonesia pada 2035. Dengan prediksi jumlah penduduk 400 juta pada saat itu, kebutuhan beras nasional diperkirakan menepis angka 36 juta ton. Sementara, produksi beras nasional saat ini masih menari-nari di kisaran 25 juta ton sampai 29 juta ton.
Upaya mendongkrak produksi beras, tampaknya bukan perkara gampang. Seperti kita tahu, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi pengalihan fungsi lahan pertanian secara massal. Menurut data Badan Pertanahan Nasional (BPN) sekitar 81.176 hektar lahan pertanian di Pulau Jawa telah disulap menjadi area pemukiman dan industri. Belum lagi daerah lainnya.
Fakta ini menunjukkan riskannya ketahanan pangan nasional jika hanya mengandalkan satu komoditi, yakni beras. Karena itulah upaya pengembangan pangan alternatif yang berbasis umbi-umbian, tanaman pohon atau biji-bijian, menjadi amat penting. Sorgum adalah salah satu pilihan utama.
Sorgum dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Di Thailand, misalnya, makanan berbasis tepung ini variasinya banyak sekali. Mulai dari kue basah hingga bubur bayi. Anehnya, di Indonesia, sorgum bukanlah menu favorit dan kalah populer dibanding beras.
Padahal, dari nilai gizinya sorgum jauh lebih unggul ketimbang beras. Lihat saja. Kandungan protein satu gram sorgum ternyata 1,6 kali lipat ketimbang beras. Sorgum juga memiliki kandungan besi 5,5 kali lipat ketimbang beras, 2,05 kali lipat fosfor, 3,1 kali lipat vitamin B1, 4,7 kali lipat lemak dan 4,6 kali lipat kalsium.
''Sorgum pantas jadi pilihan pangan alternatif'' kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Dr Soedyartomo Soentono, Selasa (12/4). Orang dahulu, kata Soedyartomo, makannya sorgum. Kini, prospek pembudidayaan sorgum tampaknya mulai menemukan titik terang. Salah satunya, setelah Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR) Batan meluncurkan varietas sorgum unggulan, Sorgum Mas. Inilah varietas sorgum unggulan hasil aplikasi teknologi isotop dan radiasi Batan.
Sorgum jenis ini, menurut Soedyartomo, telah melalui proses mutasi genetik lewat teknologi radiasi nuklir sehingga memiliki kualitas jauh lebih baik ketimbang varietas asalnya. Sorgum Mas, misalnya, tidak memiliki duri atau tanin. Produktifitasnya juga sangat fantastis. ''Kalau sorgum biasa hanya menghasilkan 3,5 ton per hektare sekali panen, Sorgum Mas bisa lima bahkan delapan ton per hektare sekali panen,'' lanjutnya lagi. Varietas jenis ini tengah dikembangkan di selatan Jawa Barat.
Tak berlebihan jika sorgum dikatakan sebagai primadona pangan alternatif. Dibanding beras, sorgum relatif tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang rewel. Ia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi untuk tumbuh di lahan-lahan marjinal, seperti lahan kering, lahan kosong yang kurang subur, dan lahan nonproduktif lainnya. Potensinya sangat besar. Data dari Departemen Pertanian menunjukkan potensi lahan marginal di seluruh Indonesia sekitar 853 ribu hektare. Keunggulan lain, sorgum dapat ditanam dengan sistem ratun yang memerlukan sedikit tenaga kerja. Hebatnya lagi, Sorgum dapat dipanen dua hingga tiga kali untuk sekali tanam saja.
''Sorgum penting dalam rangka diversifikasi tanaman pangan terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap gandum,'' tutur Rudy Nanggulangi, direktur PT Multi Usaha Wisesa, perusahaan yang bekerjasama dengan Batan dalam pemasaran Sorgum Mas. Maka, ketimbang mengatasi ketahanan pangan dengan mengimpor beras atau pangan utama lainnya, lebih baik mencari solusi pangan alternatif seperti sorgum.
Upaya mendongkrak produksi beras, tampaknya bukan perkara gampang. Seperti kita tahu, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi pengalihan fungsi lahan pertanian secara massal. Menurut data Badan Pertanahan Nasional (BPN) sekitar 81.176 hektar lahan pertanian di Pulau Jawa telah disulap menjadi area pemukiman dan industri. Belum lagi daerah lainnya.
Fakta ini menunjukkan riskannya ketahanan pangan nasional jika hanya mengandalkan satu komoditi, yakni beras. Karena itulah upaya pengembangan pangan alternatif yang berbasis umbi-umbian, tanaman pohon atau biji-bijian, menjadi amat penting. Sorgum adalah salah satu pilihan utama.
Sorgum dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Di Thailand, misalnya, makanan berbasis tepung ini variasinya banyak sekali. Mulai dari kue basah hingga bubur bayi. Anehnya, di Indonesia, sorgum bukanlah menu favorit dan kalah populer dibanding beras.
Padahal, dari nilai gizinya sorgum jauh lebih unggul ketimbang beras. Lihat saja. Kandungan protein satu gram sorgum ternyata 1,6 kali lipat ketimbang beras. Sorgum juga memiliki kandungan besi 5,5 kali lipat ketimbang beras, 2,05 kali lipat fosfor, 3,1 kali lipat vitamin B1, 4,7 kali lipat lemak dan 4,6 kali lipat kalsium.
''Sorgum pantas jadi pilihan pangan alternatif'' kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Dr Soedyartomo Soentono, Selasa (12/4). Orang dahulu, kata Soedyartomo, makannya sorgum. Kini, prospek pembudidayaan sorgum tampaknya mulai menemukan titik terang. Salah satunya, setelah Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR) Batan meluncurkan varietas sorgum unggulan, Sorgum Mas. Inilah varietas sorgum unggulan hasil aplikasi teknologi isotop dan radiasi Batan.
Sorgum jenis ini, menurut Soedyartomo, telah melalui proses mutasi genetik lewat teknologi radiasi nuklir sehingga memiliki kualitas jauh lebih baik ketimbang varietas asalnya. Sorgum Mas, misalnya, tidak memiliki duri atau tanin. Produktifitasnya juga sangat fantastis. ''Kalau sorgum biasa hanya menghasilkan 3,5 ton per hektare sekali panen, Sorgum Mas bisa lima bahkan delapan ton per hektare sekali panen,'' lanjutnya lagi. Varietas jenis ini tengah dikembangkan di selatan Jawa Barat.
Tak berlebihan jika sorgum dikatakan sebagai primadona pangan alternatif. Dibanding beras, sorgum relatif tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang rewel. Ia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi untuk tumbuh di lahan-lahan marjinal, seperti lahan kering, lahan kosong yang kurang subur, dan lahan nonproduktif lainnya. Potensinya sangat besar. Data dari Departemen Pertanian menunjukkan potensi lahan marginal di seluruh Indonesia sekitar 853 ribu hektare. Keunggulan lain, sorgum dapat ditanam dengan sistem ratun yang memerlukan sedikit tenaga kerja. Hebatnya lagi, Sorgum dapat dipanen dua hingga tiga kali untuk sekali tanam saja.
''Sorgum penting dalam rangka diversifikasi tanaman pangan terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap gandum,'' tutur Rudy Nanggulangi, direktur PT Multi Usaha Wisesa, perusahaan yang bekerjasama dengan Batan dalam pemasaran Sorgum Mas. Maka, ketimbang mengatasi ketahanan pangan dengan mengimpor beras atau pangan utama lainnya, lebih baik mencari solusi pangan alternatif seperti sorgum.
Kamis, 18 Februari 2010
Rakernas IA ITB 2010 - Rencana di Jogja hari Jum'at 5 Maret 2010
ALL
Rakernas IA ITB akan diselenggarakan pada hari Jum'at tanggal 5 Maret 2010 di Jogja, dengan penyelenggara IA ITB Pusat dibantu IA ITB Cabang Jogja.
Susunan panitiannya sebagai berikut :
Rencana acaranya sebagai berikut :
Mohon bagi segenap Pengurus Cabang IA ITB seluruh Indonesia mempersiapkan diri, minimal menjadwalkan kegiatannya untuk tanggal 5 tersebut khusus untuk mengsukseskan Rakernas IA ITB 2010 ini.
Terimakasih
a/n Panitia
Djoko H
Rakernas IA ITB akan diselenggarakan pada hari Jum'at tanggal 5 Maret 2010 di Jogja, dengan penyelenggara IA ITB Pusat dibantu IA ITB Cabang Jogja.
Susunan panitiannya sebagai berikut :
Rencana acaranya sebagai berikut :
Mohon bagi segenap Pengurus Cabang IA ITB seluruh Indonesia mempersiapkan diri, minimal menjadwalkan kegiatannya untuk tanggal 5 tersebut khusus untuk mengsukseskan Rakernas IA ITB 2010 ini.
Terimakasih
a/n Panitia
Djoko H
Selasa, 09 Februari 2010
IMPERATIF PEMBALIKAN KRISIS SOSIAL EKOLOGIS dan PENGURUSAN PUBLIK
Seminar akan diselenggarakan di Bandung
tanggal 11 Februari 2010
dengan Moderator I Gde Raka
Panelisnya :
Hasrul Thayeb
Hilmi Panigoro
Hokky Situngkir
Komaruddin Hidayat
Sudjiwo Tedjo
Saksi hidup krisis dari kampung :
Aminah
Apai Janggut
I Made Kuntung
Seyarman
Makalah Pemandu :
Hendro Sangkoyo
Ringkasan Makalah Pokok
IMPERATIF PEMBALIKAN KRISIS SOSIAL EKOLOGIS dan PENGURUSAN PUBLIK
Tajuk seminar adalah sebuah soal yang sederhana dan nyata, yaitu ketidak-mampuan spesies kita untuk menjaga kelangsungan syarat-syarat keselamatan diri-kolektifnya. Kita berada pada sebuah zona ruang-waktu di mana kemajuan dalam akal-terorganisir telah menghasilkan pemburukan krisis secara dramatis. Pertimbangkan sedikit contoh berikut ini.
Seluruh stok sumber-energi primer dari fosil adalah kompos dari proses selama 300 juta tahun. Pada saat ini besaran konsumsi fosil-bakar per tahun setara dengan yang dihasilkan dalam satu juta tahun.(Girardet, H., & Mendonça, M., 2010) Pemeriksaan perubah-an jangka-panjang profil kesehatan warga suku -suku pedalaman di Kalimantan/ Borneo di bawah pengurusan publik kerajaan Brunei, negara bagian Sarawak, dan propinsi Kalimantan Timur di sepanjang perubahan cara produksi-konsumsi (prosumsi)nya menunjukkan merosotnya kualitas kesehatan pada masa perladangan berpindah dibandingkan dengan pada masa berburu-dan-meramu sebelumnya. (Sellato, B. & Sercombe, P., 2007) Kepercayaan bahwa sistem pasar yang terus memperbarui diri mempunyai daya-jaga kestabilannya sendiri lupa bahwa di sepanjang pembaruan tersebut, daya rusak proses prosumsi bahan dan energi atas syarat kelang-sungan kehidupan, spesies selain manusia, dan sesama manusia sendiri, terus membesar dengan pesat. Kemajuan kesadaran untuk melakukan tindakan koreksi atas prosumsi dan cara mengurusnya pun selama ini telah menghasilkan tindakan koreksi selektif yang justru mengawetkan pendorong-pendorong utama pemburukan syarat kehidupan.
Lalai saja tidak cukup kuat untuk menggambarkan karakter kolektif kita itu, sebab proses perusakan kolosal tersebut secara umum berlangsung secara dingin dan penuh perhitungan. Salah satu ungkapan paling sarkastis mengenai soal ini adalah bahwa kita harus bertanya kembali: menjadi cerdas itu lebih baik atau lebih buruk daripada tidak belajar sama-sekali? Nyatanya, kemajuan manusia kelihatan seperti sebuah kesalahan biologis bagi planet Bumi dan segenap penghuninya. (Chomsky, N., kuliah di Akademi Musik Chennai, India, 10/11/2001)
Untuk sampai pada pertanyaan apa yang harus dilakukan, ada beberapa masalah yang selama ini ikut berperan dalam pengawetan pemburukan krisis :
Pertama, sistem dan praktek penalaran-dan-pembincangan yang berpangkal pada rerantai kapital—dewasa ini mendominasi uraian mengenai perubahan secara umum—tidak mungkin menghasilkan tindakan koreksi terhadap moda pembesaran ekonomik dan pengurusannya, tanpa pemeriksaan silang dari sistem serta praktek penalaran-dan-pembincangan yang berpangkal pada rerantai sosial di satu sisi, dan rerantai ekologis di sisi lainnya.
Kedua, pemburukan krisis beroperasi detik demi detik dalam skala majemuk lewat serangkaian transaksi sosial dan transaksi ekologis dalam jumlah besar dan rumit prosesnya. Sistem pengetahuan tandingan membutuhkan seperangkat protokol pengurusan perubahan yang bukan saja tidak lagi buta-krisis, tetapi juga mampu mengelola proses pemulihan kerusakan. Secara sederhana, spiral perubahan telah menjamah sistem-sistem pendukung kehidupan, termasuk keutuhan ragawi dan mental lewat pengalaman perubahan yang bagi golongan pinggiran acapkali traumatik.
Ketiga, menyangkut cara kita belajar dan mengelola proses belajar berskala majemuk macam itu, sehingga setiap orang bisa menjadi bagian dari proses belajar tersebut, dan tak kalah pentingnya, moda, ritme serta laju pembalikan krisis berjalan selaras dengan syarat-syarat reproduksi kehidupan alami.
tanggal 11 Februari 2010
dengan Moderator I Gde Raka
Panelisnya :
Hasrul Thayeb
Hilmi Panigoro
Hokky Situngkir
Komaruddin Hidayat
Sudjiwo Tedjo
Saksi hidup krisis dari kampung :
Aminah
Apai Janggut
I Made Kuntung
Seyarman
Makalah Pemandu :
Hendro Sangkoyo
Ringkasan Makalah Pokok
IMPERATIF PEMBALIKAN KRISIS SOSIAL EKOLOGIS dan PENGURUSAN PUBLIK
Tajuk seminar adalah sebuah soal yang sederhana dan nyata, yaitu ketidak-mampuan spesies kita untuk menjaga kelangsungan syarat-syarat keselamatan diri-kolektifnya. Kita berada pada sebuah zona ruang-waktu di mana kemajuan dalam akal-terorganisir telah menghasilkan pemburukan krisis secara dramatis. Pertimbangkan sedikit contoh berikut ini.
Seluruh stok sumber-energi primer dari fosil adalah kompos dari proses selama 300 juta tahun. Pada saat ini besaran konsumsi fosil-bakar per tahun setara dengan yang dihasilkan dalam satu juta tahun.(Girardet, H., & Mendonça, M., 2010) Pemeriksaan perubah-an jangka-panjang profil kesehatan warga suku -suku pedalaman di Kalimantan/ Borneo di bawah pengurusan publik kerajaan Brunei, negara bagian Sarawak, dan propinsi Kalimantan Timur di sepanjang perubahan cara produksi-konsumsi (prosumsi)nya menunjukkan merosotnya kualitas kesehatan pada masa perladangan berpindah dibandingkan dengan pada masa berburu-dan-meramu sebelumnya. (Sellato, B. & Sercombe, P., 2007) Kepercayaan bahwa sistem pasar yang terus memperbarui diri mempunyai daya-jaga kestabilannya sendiri lupa bahwa di sepanjang pembaruan tersebut, daya rusak proses prosumsi bahan dan energi atas syarat kelang-sungan kehidupan, spesies selain manusia, dan sesama manusia sendiri, terus membesar dengan pesat. Kemajuan kesadaran untuk melakukan tindakan koreksi atas prosumsi dan cara mengurusnya pun selama ini telah menghasilkan tindakan koreksi selektif yang justru mengawetkan pendorong-pendorong utama pemburukan syarat kehidupan.
Lalai saja tidak cukup kuat untuk menggambarkan karakter kolektif kita itu, sebab proses perusakan kolosal tersebut secara umum berlangsung secara dingin dan penuh perhitungan. Salah satu ungkapan paling sarkastis mengenai soal ini adalah bahwa kita harus bertanya kembali: menjadi cerdas itu lebih baik atau lebih buruk daripada tidak belajar sama-sekali? Nyatanya, kemajuan manusia kelihatan seperti sebuah kesalahan biologis bagi planet Bumi dan segenap penghuninya. (Chomsky, N., kuliah di Akademi Musik Chennai, India, 10/11/2001)
Untuk sampai pada pertanyaan apa yang harus dilakukan, ada beberapa masalah yang selama ini ikut berperan dalam pengawetan pemburukan krisis :
Pertama, sistem dan praktek penalaran-dan-pembincangan yang berpangkal pada rerantai kapital—dewasa ini mendominasi uraian mengenai perubahan secara umum—tidak mungkin menghasilkan tindakan koreksi terhadap moda pembesaran ekonomik dan pengurusannya, tanpa pemeriksaan silang dari sistem serta praktek penalaran-dan-pembincangan yang berpangkal pada rerantai sosial di satu sisi, dan rerantai ekologis di sisi lainnya.
Kedua, pemburukan krisis beroperasi detik demi detik dalam skala majemuk lewat serangkaian transaksi sosial dan transaksi ekologis dalam jumlah besar dan rumit prosesnya. Sistem pengetahuan tandingan membutuhkan seperangkat protokol pengurusan perubahan yang bukan saja tidak lagi buta-krisis, tetapi juga mampu mengelola proses pemulihan kerusakan. Secara sederhana, spiral perubahan telah menjamah sistem-sistem pendukung kehidupan, termasuk keutuhan ragawi dan mental lewat pengalaman perubahan yang bagi golongan pinggiran acapkali traumatik.
Ketiga, menyangkut cara kita belajar dan mengelola proses belajar berskala majemuk macam itu, sehingga setiap orang bisa menjadi bagian dari proses belajar tersebut, dan tak kalah pentingnya, moda, ritme serta laju pembalikan krisis berjalan selaras dengan syarat-syarat reproduksi kehidupan alami.
Undangan seminar dapat menghubungi
Ika Puspitarini di 0818 492 761 sms only
email ika.puspitarini@abcjkt.co.id
dan Iwan Heryana di 0813 2044 5823 sms only
email iwan@suk.itb.ac.id
Ika Puspitarini di 0818 492 761 sms only
email ika.puspitarini@abcjkt.co.id
dan Iwan Heryana di 0813 2044 5823 sms only
email iwan@suk.itb.ac.id
Sabtu, 06 Februari 2010
Form data alumni ITB
Siapapun anda, dimanapun anda, asal anda pernah mengenyam pendidikan di ITB, dari D1 maupun sampai S3, atau belum menamatkan pendidikan anda sekalipun, anda adalah alumni ITB. Maka mohon anda isikan form ini, dan kumpulkanlah di IA ITB pengurus pusatnya, maupun melalui kami, di
akan kami bantu menyampaikan ke PP nya.
akan kami bantu menyampaikan ke PP nya.
Silahkan diisi form nya sesuai image terlampir dibawah ini.
Label:
alumni itb,
ia itb,
institut teknologi bandung,
itb
Langganan:
Postingan (Atom)
